Permasalah akademik yang sedang dihadapi oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) adalah buruknya kinerja penelitian yang dilihat dari kurangnya jumlah publikasi dan kutipan ilmiah di jurnal internasional. Menurut situs scimagojr.com Indonesia berada diperingkat ke-57 terkait publikasi jurnal ilmiah dengan jumlah publikasi sebanyak 39.719, jauh tertinggal oleh negara–negara ASEAN yang lebih produktif seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura. Apalagi rendahnya target dari Kemenristekdikti terkait total publikasi jurnal ilmiah tahunan yang dipatok di angka 5.008, melihat terdapat sekitar 3.500 perguruan tinggi di Indonesia
 Kenyataan ini bisa dibandingkan dengan Singapura yang ada diperingkat 32 dengan jumlah publikasi 211.251 atau Malaysia diperingkat ke-35 dengan 181.251. Padahal jika melihat Singapura ataupun Malaysia yang jumlah dosen dan perguruan tingginya lebih sedikit, tetapi jumlah karya ilmiahnya jauh melampaui kita.  Berbagai upaya telah dilakukan Kemenristekdikti untuk meningkatkan publikasi karya ilmiah dari segi kuantitas dan kualitas, di antaranya mengharuskan tulisan di jurnal nasional dan internasional sebagai persyaratan kenaikan jenjang akademik dan pangkat bagi dosen dan guru. Mengharuskan mahasiswa S-1, S-2, dan S-3 mempublikasikan karya tulis dalam jurnal ilmiah sebagai syarat kelulusan. Bahkan, bermacam program dan dana penelitian ditawarkan sebagai trigger. Sayangnya, pelbagai strategi itu hingga sejauh ini belum  menampakkan hasil signifikan karena orientasi kebijakan lebih mengutamakan produk daripada proses akademik. Pada akhirnya, aktivitas penelitian kebanyakan bersifat proforma alias basa-basi.
 Menurut Mohammad Abduhzen, seorang pemerhati pendidikan mengatakan bahwa sesuatu yang disebut karya ilmiah seyogianya lahir dari proses ilmiah, yaitu serangkaian kegiatan telaah dan percobaan mengenali, memahami, dan menemukan fenomena alami dan manusiawi sebagaimana adanya. Bagaimana mungkin produk ilmiah akan meningkat jika iklim akademik yang menjadi basis kegairahan berproses ilmiah di kebanyakan kampus diabaikan dan karenanya makin pudar.
 Di era sekarang, kebanyakan kampus lebih beriklim politik dan komersial ketimbang berbudaya akademik (kebanyakan loh, bukan semua). Pemilihan Rektor misalnya, sudah biasa diikuti pembentukan tim sukses, disusul aksi lobi-lobi di Kementerian karena menteri memiliki 35 persen hak suara dari total pemilik (Permendikbud No. 33 tahun 2012). Selain itu, kampus yang oleh undang-undang diberi otonomi bidang akademik dan non-akademik lebih tertarik mengembangkan kemandirian non-akademik, terutama dalam mencari sumber pemasukan, seperti bermacam jalur penerimaan mahasiswa, model pembayaran uang kuliah, membuka program studi dan atau kegiatan yang laris manis. Pengelola kampus akhirnya lebih fokus memikirkan strategi mencari dana daripada strategi menghidupkan budaya ilmiah.
Kenyataan ini diperparah sistem birokrasi di kementerian pengelola perguruan tinggi yang rumit dan memerlukan duit dalam pengurusan berbagai hal, terlebih bagi perguruan tinggi swasta.  Mentalitas birokrat dan korporat lalu menjalari berbagai aktivitas kampus, termasuk urusan akademik dan pendidikan. Maka, jangankan kasmaran dengan kegiatan ilmiah, warga kampus malah sering kali berperilaku irasional dan tak produktif baik dalam interaksi pembelajaran maupun dalam pergaulan sehari-hari. (AN)

Pluralisme adalah kata benda yang berasal dari kata plural yang bila diterjemahkan menjadi ‘lebih dari satu’ atau ‘jamak’. Pluralisme adalah suatu paham atau pandangan hidup yang mengakui dan menerima adanya keanekaragaman dalam suatu kelompok masyarakat. Konsep ini sangat cocok apabila diadaptasi di Indonesia, di mana masyarakat Indonesia tidak terdiri dari suku, agama, atau ras tertentu. Dari Sabang hingga Merauke kita memiliki berbagai entitas yang beragam. Disaat Indonesia memiliki keaneragaman tersebut kita sebagai warga negara sudah seharusnya menjadikannya sebagai identitas bangsa Indonesia yang harus dihargai, bukan menjadi alat pemecah bangsa.
 Isi Sumpah Pemuda adalah bukti bahwa Indonesia mengakui dan menjunjung tinggi cita-cita pluralisme bangsa. Begitu pula Pancasila dan UUD 1945 yang mencerminkan kesadaran, komitmen, pandangan hidup, serta sikap hidup yang sama. Yang menjadi pertanyaan mendasar apakah kita sudah hidup untuk menghargai dan tidak merendahkan orang lain yang berbeda dari kita?
 Kenyataannya mungkin jauh dari harapan. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan Setara Institute, di tahun 2015 terdapat 197 peristiwa dengan 236 bentuk tindakan pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan yang terjadi di seluruh Indonesia. Dimana aktor dari banyaknya peristiwa tersebut adalah organisasi masyarakat keagamaan terus disusul oknum – oknum aparat Negara. Jenis tindakan pelanggaran yang dilakukan seperti intoleransi, penyesatan agama, penyebaran kebencian, perusakan rumah ibadah, dan penghentiaan kegiatan keagamaan lain. Jadi, dimana rasa kesadaran akan persatuan dan kesatuan? Mungkin tidak ada.
 Ada permasalah fundamen ketika pandangan dan keyakinan diperdebatkan, apalagi menyebabkan kerusuhan yang menghilangkan nyawa seseorang. Kurangnya rasa kemanusiaan, rasa persatuan hingga rasa keadilan, atau bisa dibilang kurangnya nilai–nilai lima sila Pancasila. Menurut Abdurahman Wahid, bapak pluralisme Indonesia berkata, “Anti-Pancasila ialah menghalangi orang beribadah, membrangus diskusi, mengeruk kekayaan dan memiskinkan orang banyak.”
 Jadi guna menjaga pluralisme bangsa yang hakiki adalah dengan memahami dan mengimplementasikan Pancasila dalam kehidupan sehari – hari seperti gotong royong di lingkungan masyarakat atau menjujung tinggi musyawarah mufakat. Sehingga harapannya muncul rakyat Indonesia yang mempunyai nilai toleransi tinggi guna menjaga pluralisme bangsa Indonesia yang indah ini. (AN)

There is Indonesian wise word that said “Tak kenal maka tak sayang.” However, in the world of marketing, known isnt enough. In addition to a product or brand is known, it must also selled or marketable or capable of generating financial benefits for the producers. Also with advertising. In addition to advertisements able to introduce products to a broad audience,It also should have the power of persuasion to persuade consumer to buy the product being advertised. Actually what is the definition of advertisement? Advertisement is all forms of presentation of information and promotion of indirect Posted done sponsoring the idea of offering to review, goods or services.”
In advertisement, we should have some component which could persuade our target customers. So in this case, we will analyse Tokopedia Ads who one of catchy sample Ads in TV. We will analyse the Ads component like the structure, visuality, word choice and etc.  

1.       STRATEGY.
First Tokopedia use Isyana Sarasvati as their brand ambassador who is the new and famous singer in Indonesia nowdays.  The decision that use Isyana Sarasvati as their brand ambassador shows their targets are the young energic woman for spesifically. Their advertisement always tell that all of people’s needs is sell in Tokopedia, and their advertisement story is also considerable unique. They have a slogan that almost impossible not to hear in our daily lif. “SUDAH CEK TOKOPEDIA BELUM? “

2.       STYLE.
Their style well is considerable unique, it shows in their advertisement that always use the unexpected story, and make us think we can buy anything there. Tokopedia use bahasa indonesia in their advertisement that audience know best because Tokopedia  is the online shop in Indonesia that targeting Indonesian citizen. They do not use any defensive/ arrogants words. They also use non formal languange to attracting the young indonesian citizen, and their sound is clear enough.

3.       DOCUMENT DESIGN.
Actually their advertisement design is about green , the colour that very lighting to attract the eyes of audiences. The green colour is like the trademark of Tokopedia. It can seen in their logo/symbol of Tokopedia, and also their brand ambassador always use the green clothes.

4.       STRUCTURE
In my opinion, the advertisement structure of  Tokopedia is very catchy. If we were the customer who first time watch that Ads, they would think that this Ads is fighting Ads. This is abous the plot story cant guessed. But they put, some actions that very funny who make the customer curious. But with tokopedia in the up tab, it makes the understanding of what the Ads inform. But overall, by the fuction of Ads. This tokopedia Ads is very useful to attract customer.

5.       WORD CHOICE
First, because of the theme of the Ads is Japanese. There are some sound that identical with Japanese style. The prolog of voice is used for the explanation of Ads and the language that used isn’t fully formal, but they used daily Indonesian language that very enjoy to heard. Then the suppression of the voice is very fit with the contents of the message.

6.       VISUAL
If we talk about the visuality, we will analyse 3 components of Tokopedia Ads. First, we talk about the decoration. By showing a Japanese theme, the ads have some decoration that showing their theme, like the property that they used and the place of the
Ads. Second, about the viewpoint of camera. Overall, all component of the ads have maximum showed by the camera, from the main artist until the support artist. And the last is the custome of the artist. The main artist, Isyana. She was wearing a traditional clothes of japan woman soldier. The the support artists were wearing yakuza customes and there was waitress that’s look like Japanese people.

Overall, this tokopedia is very unique and so funny. People usually skip the TV Ads, but when thay watch this Ads, I think they will pay attention first because of curious, then they want to watch Isyana. So, this Ads is one of Ads which can persuade the customer to used tokopedia.

Alfian Nurdiansyah (145020207121011)
Loise Aurora R. G   (145020207121014)


Mengingat Gie dan Sekedar Catatan Tentang Persma
oleh: Alfian Nurdiansyah

~ Pada akhirnya kita memilih jadi tumbal atau martir.
Jadi dimana saya harus memulai untuk berkisah tentang pers mahasiswa. Sungguh sebenarnya bercerita mengenai sejarah adalah usaha melawan kebosanan. Seperti kamu, saya juga benci untuk duduk dan mendengarkan orang tak jelas bercerita tentang hal yang sebenarnya tak menarik. Persma adalah segala puncak dari ke-tak-menarikan.

Pers mahasiswa adalah sebuah entitas organ mahasiswa yang bergerak dalam bidang jurnalistik. Seharusnya demikian, tetapi praktek dilapangan seringkali tak jauh beda dengan ekskul menulis. Ya menulis. Sekedar mencurahkan uneg-uneg dalam kata dan ditautkan seolah itu menjadi karya hebat. Saya mungkin terdengar nyinyir, tapi lebih baik kamu sekalian yang hendak berproses dalam pers mahasiswa tahu lebih awal. Bergelut dengan persma adalah bergelut dengan segala yang bernama absurditas dan kedegilan pemikiran. Menjadi orang yang diasingkan karena berbeda dan kritis. Karena bukanlah persma jika tak kritis, ia hanya sekedar penulis medioker kampungan. 

Pers mahasiswa Indonesia dimulai dari ratusan tahun lalu. Pada saat para mahasiswa hindia di Belanda berusaha menulis untuk menuntut pelaksanaan politik etis. Sebuah usaha mencerdaskan pribumi dengan akses pendidikan yang merata dan lebih luas. Kala itu belum dikenal pers mahasiswa. Hanya perjuangan atas dasar kesukuan demi kemajuan daerahnya masing-masing. Kemudian hal ini berkembang setelah ide-ide nasionalisme kebangsaan dikenal. Tentu saja hal ini dimulai pada tanggal 28 Oktober 1928 yang konon adalah hari sumpah pemuda. Melalui sumpah "berbahasa satu bahasa Indonesia" kanal perjuangan yang dahulu berupa diplomasi dan perjuangan perang. 

Kini perjuangan menemukan jalannya yang baru. Kata-kata. Tulisan dan kaitannya dengan pers mahasiswa, adalah perjuangan untuk mengabarkan. Informasi dan usaha menarasikan perlawanan. Kamu akan memulai proses panjang yang diawali satu huruf, kata, kalimat dan pamflet yang bisa menggugah dan menggerakan hati. Dalam banyak peradaban, sebuah tulisan bisa mengawali sebuah revolusi pemikiran. Adalah Soe Hok Gie, seorang tionghoa pemikir cum wartawan, yang menyadari hal tersebut. Menulis untuknya adalah sebuah usaha untuk melakukan perjuangan. Lebih dari itu, sebagai wartawan mahasiswa, Gie secara frontal melakukan kritik terhadap pemerintah dan tokoh berkuasa kala itu. Takut? Tentu tetapi apalah arti seorang intelektual yang gagal memanfaatkan kemampuannya untuk kebaikan bersama. Mereka tak lebih dari sampah.
Jika kemudian saya harus bertanya maka pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah:Who am I? Gie telah menjawabnya dengan garang ia berkata : 

Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: Kebenaran.


Bukankah kebenaran merupakan hal yang paling hakiki? Lalu kemanakah kebenaran itu kemudian
akan berjalan. Saya pikir ia akan berjalan melalui kata-kata menuju setiap hati nurani para pembacanya. Dan pers mahasiswa sebagai salah satu organ yang bergerak di dalamnya harus konsisten untuk melakukan hal itu. Kemudian di manakah pers mahasiswa harus berada? Saya pikir pers mahasiswa yang aktif berkegiatan di kampus, harus mulai bekerja dan peduli dengan segala hal di sekitar kampusnya. Hal-hal remeh temeh yang terkait dengan permasalahan kampus. Semisal; dedikasi dosen terhadap proses perkuliahan atau akses terhadap berkegiatan. Jangan terpaku pada hal-hal besar yang nantinya akan membuat kita melayang dan lupa diri. Tulislah hal di sekitar kampus kamu dan kabarkan dengan lantang tanpa embel-embel.

Lalu apakah yang harusnya dikerjakan oleh pers mahasiswa untuk menghasilkan sebuah tulisan yang baik? Banyaklah membaca dan membaca dan membaca dan membaca. Karena mustahil memiliki tulisan yang baik jika kamu tak pernah membaca. Gie adalah seorang pembaca yang rakus. Ketika ia sekolah setingkat SMP ia telah melahap buku-buku karya Andre Gide, Ghandi dan juga Chairil. Maka tak heran jika ia memiliki kualitas tulisan tajam yang kuat. 

Bagaimana setelah kita membaca? Banyaklah berdiskusi dan ingat CATAT SEGALA HAL PENTING selama diskusi berlangsung. Carilah teman diskusi yang kamu anggap ia menguasai hal yang ingin kamu atau telah kamu baca. Dengan demikian kamu akan punya pandangan yang lebih menyeluruh dan lebih baik. Setelah itu lakukan proses pengendapan, membiarkan pemikiran dengan cara kontenplasi, lalu meminjam sajak Saut Sitompul "Tulis, Tulis, Tulis!"

Menulis bukan untuk gaya-gayaan dan unjuk kepintaran, lebih dari itu, menulis adalah usaha perjuangan. Sudah berapa kali saya gambarkan dalam tulisan ini, bagaimana sebuah tulisan dapat mempengaruhi seseorang. Sebagai contoh kalian perlu membaca Sebongkah Emas Di Kaki Pelangi karya wartawan gaek Bondan Winarno. Sebuah penulisan investigastif yang mampu membuat mentri pada zaman Soeharto meradang. Jangan takut saat menulis, seperti yang dikatakan Napoleon Bonaparte, "Aku lebih memilih menghadapi seribu bayonet dari pada sebuah pena," Ia tak sedang gombal. Menulis kawan akan menjadikan kamu seroang pejuang tersembunyi. Tetapi perlu diingat jangan kemudian privilage itu membuat kalian merasa lebih baik dari orang lain. Jika demikian kalian boleh masuk tong sampah secara hina.

Ini bukan panduan, semacam rasa semangat untuk berbagi saja. Kamu bisa belajar dengan sendirinya. Pers mahasiswa sejatinya adalah sekedar usaha untuk mencari jati diri melalui organ penulisan jurnalistik. Jangan telan bulat-bulat apa yang saya tulis. Itu hanya akan menjadikan kamu boneka dan kacung saja. Jadilah besar karena kemampuan kamu sendiri, bukan karena orang lain. Seperti apa yang dikatakan Gie.
Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi "manusia-manusia yang biasa". Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.
 Tetapi itu adalah Gie, kamu boleh setuju, boleh tidak, boleh juga meludahinya sebagai ide absurd yang gila. Setiap masa punya Zeitgeist-nya sendiri, semangat zaman yang menginspirasi jalannya sebuah perjuangan. Definisikan apa perjuangan yang hendak kalian lakukan melalui pers mahasiswa. Sekedar mengisi waktu kosong, sekedar usaha mencari pacar, atau berdialektika mencari pemahaman. Dan selebihnya dusta. 

Satu hal yang ingin saya tekankan jika kalian memutuskan untuk berjuang melalui pers mahasiswa. Jangan pernah menulis hal yang tak pernah kalian yakini itu adalah sebuah usaha untuk mencerahkan. Jangan terjebak pada hal global-masal-banal yang sebenarnya bacin. Kamu bingung? Tontonlah televisi dan pikirkan mana yang lebih penting antara pernikahan William-Kate dengan kondisi petani yang ditembak TNI di Kebumen. Dalam banyak hal kawan, kamu harus berpikir sadis demi perubahan. Pada akhirnya Gie berkata demikian 

"Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip - prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan." Sebuah sumpah yang keras. Lalu bagaimana dengan kamu? (*)
Tetapi itu adalah Gie, kamu boleh setuju, boleh tidak, boleh juga meludahinya sebagai ide absurd
yang gila. Setiap masa punya Zeitgeist-nya sendiri, semangat zaman yang menginspirasi jalannya sebuah perjuangan. Definisikan apa perjuangan yang hendak kalian lakukan melalui pers mahasiswa. Sekedar mengisi waktu kosong, sekedar usaha mencari pacar, atau berdialektika mencari pemahaman. Dan selebihnya dusta. Satu hal yang ingin saya tekankan jika kalian memutuskan untuk berjuang melalui pers mahasiswa. Jangan pernah menulis hal yang tak pernah kalian yakini itu adalah sebuah usaha untuk mencerahkan.

Jangan terjebak pada hal global-masal-banal yang sebenarnya bacin. Kamu bingung? Tontonlah televisi dan pikirkan mana yang lebih penting antara pernikahan William-Kate dengan kondisi petani yang ditembak TNI di Kebumen. Dalam banyak hal kawan, kamu harus berpikir sadis demi perubahan. Pada akhirnya Gie berkata demikian "Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan." Sebuah sumpah yang keras. Lalu bagaimana dengan kamu? (*) hehehe




Seuntai Catatan Polri di Usia ke-69
oleh: Alfian Nurdiansyah

“Hanya ada tiga polisi yang jujur, yakni patung polisi, polisi tidur, dan Pak Hoegeng.” – Gus Dur


Kalimat diatas adalah sebuah anekdot yang dilontarkan oleh Mantan Presiden Gus Dur. Ini semacam sindiran bahwa sulit mencari polisi jujur di negeri ini. Kalaupun ada, langka dicari. Sebenarnya siapa Hoegeng itu? Hoegeng Iman Santoso adalah Kapolri ke-5 yang memimpin pada dekade 60-an. Sampai hari ini, Hoegeng selalu disebut-sebut sebagai kapolri ideal sepanjang sejarah RI. Terutama, terkait integritas pribadinya.

Kembali ke anekdot yang dilontarkan oleh Mantan Presiden Gus Dur. Krisis kepercayaan kepada Polisi Republik Indonesia (Polri) masih terjadi. Sangat ironis jika badan pemerintahan yang bertugas memelihara keamanan dan ketertiban umum ini berjalan tidak sesuai dengan semestinya. Keluhan terhadap sikap, perilaku dan kinerja aparat kepolisian masih menjadi persoalan klasik yang tak kunjung bisa diatasi Polri.

Memandang profesionalisme aparat kepolisian saat ini masih jauh dari harapan. waktu lalu muncul berita miring terkait rekening gendut mantan calon Kapolri yang diajukan oleh Presiden. Apalagi sepanjang tahun 2014 hingga artikel ini diterbitkan, ada 51 polisi tewas dan 48 luka. Sementara polisi salah tembak ada 21 kasus, yang menyebabkan sembilan orang tewas dan 26 luka. Sedangkan 72 tahanan kabur dari 11 kantor polisi, sehingga menambah citra buruk Polri di mata masyarakat.

Ind Police Watch (IPW) mendata, ada tujuh faktor kenapa krisis kepercayaan terhadap Polri terus terjadi. Yaitu; kontrol atasan sangat lemah, adanya target ambisius dari atasan, bawahan cendrung cari muka, tidak ada tolok ukur yang jelas dalam rotasi tugas, tidak ada sanksi pemecatan pada perwira tinggi bermasalah, gaya hidup hedonis makin membudaya di kepolisian,dan kekayaan elit-elit Polri dibiarkan tak terkendali.

Hari Bhayangkara ke-69 1 Juli 2015 harus dimanfaatkan Polri sebagai momentum untuk untuk pembenahan internal. Dengan demikian, Polri diharapkan menjadi institusi penegak hukum yang sesuai harapan bangsa dan masyarakat. Ingin sekali rakyat Indonesia mempunyai polisi – polisi yang bersih dari jeratan suap/korupsi. Kita pernah mempunyai sosok Hoegeng yang seharusnya jadi teladan bagiseluruh polisi di Indonesia, dan tidak tutup kemungkinan bakal muncul Hoegeng – Hoegeng baru dari kalangan masyarakat. Jangan sampai sosok Hoegeng ini hanya diceritakan dari satu generasi ke generasi polisi lain. Tapi rupanya sedikit yang meneladani.