Seuntai Catatan Polri di Usia ke-69
oleh: Alfian Nurdiansyah
“Hanya ada tiga polisi yang jujur, yakni patung polisi, polisi tidur, dan Pak Hoegeng.” – Gus Dur
Kalimat diatas adalah sebuah anekdot yang dilontarkan oleh Mantan Presiden Gus Dur. Ini semacam sindiran bahwa sulit mencari polisi jujur di negeri ini. Kalaupun ada, langka dicari. Sebenarnya siapa Hoegeng itu? Hoegeng Iman Santoso adalah Kapolri ke-5 yang memimpin pada dekade 60-an. Sampai hari ini, Hoegeng selalu disebut-sebut sebagai kapolri ideal sepanjang sejarah RI. Terutama, terkait integritas pribadinya.
Kembali ke anekdot yang dilontarkan oleh Mantan Presiden Gus Dur. Krisis kepercayaan kepada Polisi Republik Indonesia (Polri) masih terjadi. Sangat ironis jika badan pemerintahan yang bertugas memelihara keamanan dan ketertiban umum ini berjalan tidak sesuai dengan semestinya. Keluhan terhadap sikap, perilaku dan kinerja aparat kepolisian masih menjadi persoalan klasik yang tak kunjung bisa diatasi Polri.
Memandang profesionalisme aparat kepolisian saat ini masih jauh dari harapan. waktu lalu muncul berita miring terkait rekening gendut mantan calon Kapolri yang diajukan oleh Presiden. Apalagi sepanjang tahun 2014 hingga artikel ini diterbitkan, ada 51 polisi tewas dan 48 luka. Sementara polisi salah tembak ada 21 kasus, yang menyebabkan sembilan orang tewas dan 26 luka. Sedangkan 72 tahanan kabur dari 11 kantor polisi, sehingga menambah citra buruk Polri di mata masyarakat.
Ind Police Watch (IPW) mendata, ada tujuh faktor kenapa krisis kepercayaan terhadap Polri terus terjadi. Yaitu; kontrol atasan sangat lemah, adanya target ambisius dari atasan, bawahan cendrung cari muka, tidak ada tolok ukur yang jelas dalam rotasi tugas, tidak ada sanksi pemecatan pada perwira tinggi bermasalah, gaya hidup hedonis makin membudaya di kepolisian,dan kekayaan elit-elit Polri dibiarkan tak terkendali.
Hari Bhayangkara ke-69 1 Juli 2015 harus dimanfaatkan Polri sebagai momentum untuk untuk pembenahan internal. Dengan demikian, Polri diharapkan menjadi institusi penegak hukum yang sesuai harapan bangsa dan masyarakat. Ingin sekali rakyat Indonesia mempunyai polisi – polisi yang bersih dari jeratan suap/korupsi. Kita pernah mempunyai sosok Hoegeng yang seharusnya jadi teladan bagiseluruh polisi di Indonesia, dan tidak tutup kemungkinan bakal muncul Hoegeng – Hoegeng baru dari kalangan masyarakat. Jangan sampai sosok Hoegeng ini hanya diceritakan dari satu generasi ke generasi polisi lain. Tapi rupanya sedikit yang meneladani.
Kembali ke anekdot yang dilontarkan oleh Mantan Presiden Gus Dur. Krisis kepercayaan kepada Polisi Republik Indonesia (Polri) masih terjadi. Sangat ironis jika badan pemerintahan yang bertugas memelihara keamanan dan ketertiban umum ini berjalan tidak sesuai dengan semestinya. Keluhan terhadap sikap, perilaku dan kinerja aparat kepolisian masih menjadi persoalan klasik yang tak kunjung bisa diatasi Polri.
Memandang profesionalisme aparat kepolisian saat ini masih jauh dari harapan. waktu lalu muncul berita miring terkait rekening gendut mantan calon Kapolri yang diajukan oleh Presiden. Apalagi sepanjang tahun 2014 hingga artikel ini diterbitkan, ada 51 polisi tewas dan 48 luka. Sementara polisi salah tembak ada 21 kasus, yang menyebabkan sembilan orang tewas dan 26 luka. Sedangkan 72 tahanan kabur dari 11 kantor polisi, sehingga menambah citra buruk Polri di mata masyarakat.
Ind Police Watch (IPW) mendata, ada tujuh faktor kenapa krisis kepercayaan terhadap Polri terus terjadi. Yaitu; kontrol atasan sangat lemah, adanya target ambisius dari atasan, bawahan cendrung cari muka, tidak ada tolok ukur yang jelas dalam rotasi tugas, tidak ada sanksi pemecatan pada perwira tinggi bermasalah, gaya hidup hedonis makin membudaya di kepolisian,dan kekayaan elit-elit Polri dibiarkan tak terkendali.
Hari Bhayangkara ke-69 1 Juli 2015 harus dimanfaatkan Polri sebagai momentum untuk untuk pembenahan internal. Dengan demikian, Polri diharapkan menjadi institusi penegak hukum yang sesuai harapan bangsa dan masyarakat. Ingin sekali rakyat Indonesia mempunyai polisi – polisi yang bersih dari jeratan suap/korupsi. Kita pernah mempunyai sosok Hoegeng yang seharusnya jadi teladan bagiseluruh polisi di Indonesia, dan tidak tutup kemungkinan bakal muncul Hoegeng – Hoegeng baru dari kalangan masyarakat. Jangan sampai sosok Hoegeng ini hanya diceritakan dari satu generasi ke generasi polisi lain. Tapi rupanya sedikit yang meneladani.


0 komentar:
Posting Komentar